Kamis, 04 September 2025
Jumat, 11 Oktober 2024
Strategi "Circle"
1. Perlunya optimalisasi peran Kepala Sekolah dalam mendukung implementasi kebijakan kurikulum merdeka.
2. Rendahnya progres pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar (PMM). Oleh karena itu, penulis perlu mengoptimalkan diri berperan sebagai kepala sekolah yang mampu mendukung agar tujuan pendidikan dapat tercapai.
Mengapa strategi circle?
Menurut
penulis, kata circle bisa dikatakan
sebagai salah satu kata yang biasa digunakan ketika sedang berkumpul dengan
rekan atau teman sejawat. Arti circle
dalam KBBI ialah lingkaran, yaitu garis melengkung yang kedua ujungnya bertemu
pada jarak yang sama dari titik pusat berbentuk bundaran. Circle menggambarkan ikatan yang solid antara kepala sekolah dengan
guru, murid dan seluruh warga sekolah. Strategi
ini juga bermakna sesungguhnya, yaitu kegiatan yang berulang-ulang sehingga
melekat dan terikat dalam ingatan.
Ada tiga tujuan dari pendampingan dan pembinaan pembelajaran dengan strategi Circle ini adalah:
1. Meningkatkan progres pemanfaatan PMM di lingkungan SMP Negeri 11 Rambah Hilir.
2. Membiasakan agar murid dan guru melaksanakan evaluasi, refleksi dan tindak lanjut.
3. Mendampingi guru dalam memahami dan mengimplementasikan kurikulum merdeka.
Langkah-langkah kegiatan pendampingan dan pembinaan pembelajaran dengan strategi circle, sebagai berikut :
1. Pemetaan Kebutuhan Belajar
Tahap ini dilaksanakan dalam rangka mengetahui kebutuhan satuan pendidikan, yaitu murid dan guru terhadap materi implementasi kurikulum merdeka yang masih diperlukan pendampingan dan pembinaan, dan hasil analisis rapor pendidikan.
2. Asesmen Awal
Asesmen awal bertujuan untuk mengetahui kedalaman materi yang dimiliki oleh para guru, yang nantinya digunakan sebagai dasar pelaksanaan pendampingan dan pembinaan pembelajaran (mentoring, coaching, facilitating, dll).
3. Aksi Pendampingan dan Pembinaan
Pada tahap ini, kepala sekolah akan mendampingi guru sesuai kondisi dan schedule yang telah disepakati, dan terstruktur. Di kegiatan pendampingan dan pembinaan ini strategi circle akan terlihat pada pemahaman materi yang disampaikan dan memotivasi guru dalam kegiatan belajar saat mengadapi murid secara langsung. Pendampingan juga bisa dilaksanakan secara individu, beberapa guru ataupun klasikal, tergantung kebutuhan dan kesesuaian, dengan metode permodelan, diskusi terarah, fasilitasi dan coaching.
4. Evaluasi, Refleksi dan Rencana Tindak Lanjut
Setelah pelaksanaan aksi, kepala sekolah mengajak guru untuk melakukan evaluasi dan refleksi berupa umpan balik melalui kertas post it ataupun pernyataan-pernyataan singkat tentang materi yang disampaikan. Hal ini dilakukam agar evaluasi dan refleksi terbiasa dilakukan dan menjadi kegiatan yang membudaya. #
Senin, 02 Oktober 2023
HUBUNGAN
TRANSFORMASIONAL LEADERSHIP
DENGAN
ENGAGEMENT GURU
Oleh:
Veravianty M.
Kepemimpinan merupakan tulang punggung pengembangan organisasi. Pola kepemimpinan memainkan peranan penting dalam meningkatkan hasil yang diharapkan bersama pada sebuah sekolah. Untuk mencapai suatu hasil yang optimal dalam pengelolaan manajemen sekolah, diperlukan sebuah kepemimpinan yang bersistem sinergi dan dinamis. Sistem ini melibatkan sumber daya manusia yang efesien, komunikasi dua arah dan teknologi yang mengikuti perkembangan zaman dan kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung interaksi diantara tersebut.
Transformasional Leadership merupakan
gaya kepemimpinan yang mampu mengubah, mempengaruhi, dan membimbing anggota
menjadi tidak hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja melainkan ikut
serta mementingkan kepentingan organisasi.
Hubungan
antara kepala sekolah sebagai pemimpin dan guru merupakan hubungan saling
ketergantungan satu sama lainnya. Dalam proses interaksi tersebut terjadi
proses saling mempengaruhi dimana
pemimpin berupaya mempengaruhi anggotanya agar berperilaku sesuai dengan yang
diharapkan. Dari interaksi ini menentukan derajat keberhasilan pemimpin dalam
kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Mutu kepemimpinan yang terdapat dalam
organisasi memainkan peranan yang sangat dominan dalam keberhasilan suatu
organisasi tersebut dalam menyelenggarakan berbagai kegiatannya terutama
terlihat dalam kinerja anggotanya (Siagian. 2006).
Pola kepemimpinan dan pola
komunikasi merupakan sarana komunikasi satu arah maupun dua arah yang sangat
diperlukan untuk menginformasikan hal-hal yang terkait dengan kegiatan sekolah.
Komunikasi yang dibangun kepala sekolah dan guru di lingkungan sekolah adalah
komunikasi dua arah dari atas ke bawah ataupun sebaliknya. Selain melakukan
komunikasi dalam rapat, kepala sekolah membina komunikasi non formal, seperti
penggunaan media sosial, coffee morning,
berbincang santai, gathering dengan
guru dan TU untuk membahas permasalahan terkini tentang sekolah.
Pola kepemimpinan yang dilakukan
oleh kepala sekolah yang memenuhi kriteria dengan pola kepemimpinan
transformasional, dengan kualitasnya sebagai berikut:
1.
Kualitas sebagai agen
perubahan
Pemimpin yang transformasional mempunyai
kreativitas, inovatif dan fleksibel dalam berorganisasi. Kepribadian dan kesan profesional
membuatnya memungkinkan memimpin orang-orang di lingkungannya. Selain itu juga
menginspirasi pada guru dan warga sekolah untuk mementingkan kepentingan
sekolah terlebih dahulu.
2.
Kepribadian dan optimisme
Kepemimpinan yang transformasional siap dan
mampu menunjukkan sikap yang tepat untuk mengambil resiko dan menghadapi
batasan-batasan dalam organisasi. Kecakapan dan kemampuan intelektualnya mere
membuat mereka mampu menghadapi kenyataan yang sebenarnya, meskipun situasinya
kompleks, tidak menentu dan hal tersebut tidak menyenangkan.
3.
Keterbukaan dan
kepercaayaan warga sekolah
Pada saat menjali hubungan dengan guru
dan warga sekolah, pemimpin yang tranformasional menunjukkan sikap yang terbuka
dan siap memberikan kepercayaan ketika dibutuhkan (dapat berupa pemberian
wewenang).
4.
Memimpin berdasarkan nilai
Pemimpin yang trasformasional
memformulasikan nilai-nilai dasar yang ingin dicapai, menekankan nilai-nilai
penting dan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai tersebut.
5.
Proses pembelajaran yang
terus menerus
Pemimpin transformasional akan
menjelaskan pelajaran apa yang dapat diambil dari pengalamannya, untuk
mengahadapi masa depan. Hal tersebut juga menunjukkan upaya seorang pemimpin
dalam mengembangkan para guru dan warga sekolah untuk menjadi pemimpin masa
datang, serta memperhatikan kebutuhan warga sekolah dalam pelaksanaan
pembelajaran dan kegaiatan pendidikan.
6.
Visioner
Pemimpin visioner merupakan visioner yang baik, mampu menyatakan visi dengan jelas dan menarik serta serta menjelaskan bagaimana visi tersebut dapat tercapai sehingga dapat membuat warga sekolah lebih menyadari lebih pentingnya hasil tugas dalam mewujudkan tujuan pendidikan.
Berdasarkan pemaparan teori diatas,
bahwa dapat dipahami kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang mampu
menginspirasi, mengarahkan dan menggerakkan pengikutnya kepada
perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik dan inovatif untuk mencapai tujuan
bersama yang ditandai dengan empat ciri, yakni: kharismatik, inspiratif,
stimulasi intelektual dan perhatian secara individu.#
Sabtu, 16 September 2023
P5 itu KOKURIKULER
• Apa itu P5?
• Apa poin-poin P5?
• Bagaimana implementasi P5?
• dst. … dst…
Pertanyaan-pertanyaan
yang timbul tentang pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
belakangan ini seiring dengan kebijakan Kurikulum Merdeka.
Membangun karakter
siswa melalui profil pelajar Pancasila menjadi upaya untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Nilai-nilai Pancasila akan menguatkan karakter siswa sehingga mereka
akan lebih mampu mengambil keputusan yang baik, menjunjung tinggi etika, dan
dapat berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
P5 adalah projek
yang akan menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai siswa dengan kompetensi yang
ingin dihasilkan oleh system pendidikan Indonesia.
Projek tersebut
dilakukan dengan menanamkan karakter pada pribadi siswa berdasarkan nilai-nilai
Pancasila. Kegiatan ini memberi kesempatan kepada siswa untuk mengikuti proses
kegiatan belajar secara nonformal. Proses kegiatan tersebut dilakukan menjadi
lebih interaktif, terstruktur dan kegiatan belajarnya juga lebih fleksibel.
Pengertian
P5 merupakan Pembelajaran
Kokurikuler yang TERPISAH dengan Pembelajaran Intrakulikuler.
Kokurikuler adalah
kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh sisawa untuk menguatkan, mendalami atau
pengayaan pembelajaran yang sudah dipelajari dalam kegiatan Intrakulikuler.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk memaksimalkan penguatan pendidikan karakter
siswa, dan dapat dilaksanakan sendiri atau kelompok.
Di kegiatan
kokurikuler ini, fasilitator menyiapkan beberapa poin penting, seperti
memberikan tugas atau materi yang sesuai dengan pembahasan yang sedang
diajarkan. Fasilitator wajib paham tingkat kesulitan materi kokulikuler agar
tugas dapat dilaksanakan sesuai kemampuan siswa. Lalu siapa saja yang bisa
menjadi fasilitator?
Fasilitator adalah sebutan untuk guru yang mengajar P5, yang
terdiri dari Guru Kelas, Guru Mapel, Nara Sumber, atau Wali Murid.
Di akhir kegiatan,
pengajar memberikan penilaian yang adil sesuai dengan hasil kerja dan kemampuan
siswa masing-masing. Kegiatan ini bisa berupa mengembangkan identitas dan
kearifan lokal, dan pada umumnya masih terkait dengan mata pelajaran muatan local
yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat.
Tujuan & Manfaat
Beberapa tujuan tentang
pentingnya kokurikuler, yaitu:
-
Sebagai penunjang dari praktik intrakulikuler dengan acuan utama
bahwa siswa dapat mendalami materi yang sudah diperoleh. Siswa belajar
bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan.
-
Memudahkan pemahaman siswa tentang materi yang sudah dibahas.
Kegiatan kokurikuler terlihat hanya bersenang-senang saja,
namun sebenarnya mendatangkan banyak manfaat dan sangat menyenangkasn bagi siswa.
Manfaatnya yaitu menumbuhkan serta mengembangkan karakter yang baik untuk
perkembangan kepribadian siswa. Selain itu, kegiatan ini dapat melatih keterampilan
social dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan siswa.
Hubungan P5 dan
Kokurikuler
Berdasar pada Permendikbudristek No. 56/M/2022, bahwa
Projek Penguatan Profil Pancasila (P5) merupakan kegiatan kokurikuler berbasis
projek yang dirancang menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesia
dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi
Lulusan.
P5 dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri
setiap individu siswa melalui budaya satuan pendidikan. Profil Pelajar Pancasila
memiliki 6 dimensi, yaitu:
1, Beriman, bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia.
2. Berkebinekaan global.
3. Bergotong royong.
4. Mandiri.
5. Bernalar kritis.
6. Kreatif.
Pelaksanaan P5 dilakukan secara fleksibel dari segi
muatan, kegiatan dan waktu pelaksanaan. Projek dirancang terpisah dari
intrakulikuler. Tujuan, muatan, dan kegiatan pembelajaran projek tidak harus
dikaitkan dengan tujuan materi pembelajaran intrakulikuler.
Gambaran Pelaksanaan
P5
Penerapan P5 perlu ditekankan bahwa projek dapat dilandasi
studi kasus dan studi lapangan yang dilakukan oleh siswa. Proses tersebut akan
melandasi kepekaan siswa terhadap isu sosial yang terjadi di masyarakat.
Gambaran Pelaksanaan P5 bagi siswa dapat dicontohkan
sebagai berikut:
1.
Proyek Pemberdayaan Lingkungan
Siswa dapat belajar
tentang siklus air dan melakukan penyelidikan penyebab keringnya mata air dan
melakukan penghijauan. Setelah melakukan penanaman pohon, siswa merawat agar
tumbuh dengan baik. Projek profil ini mengembangkan karakter akhlak kepada alam
dan termasuk dalam dimensi Akhlak Mulia.
2.
Konferensi Siswa
Kegiatan ini melatih
kemampuan siswa dalam public speaking, presentasi, tampil di depan umum dengan
menyajikan hasil riset sederhana sesuai dengan materi yang sudah dipelajari
sebelumnya. Projek ini mengembangkan dimensi Bernalar Kritis dan Mandiri.
3.
Kerja Bakti
Aktivitas ini paling
sering dilakukan untuk memberikan edukasi kepada siswa mengenai pentingnya
kebersihan dan penghijauan di lingkungan sekolah. Siswa dapat diarahkan
melakukan kebersihan kelas, kebun sekolah dan pemilahan sampah. Selain dapat
dijadikan aktivitas refreshing siswa dari kegiatan intrakulikuler, kegiatan ini
juga termasuk dalam dimensi Gotong Royong.
Waktu Pelaksanaan P5 dialokasikan 1-2 JP per hari di
akhir pelajaran. Dalam seminggu kegiatan P5 ditentukan 1 hari untuk pelaksanaannya.
Pada per periode, kegiatan P5 dipadatkan di minggu ke-4 setiap bulan atau full
di bulan tertentu.
Dalam 1 tahun ajaran, P5 dilaksanakan sebagai berikut:
-
PAUD = 1-2 tema
-
SD/MI = 2 tema
-
SMP/MTs = 3 tema
-
SMA/MA = 3 tema
Kesimpulan
P5 adalah Pendekatan Pembelajaran melalui Proyek. Sasaran
utamnya adalah mencapai Dimensi Profil Pelajar Pancasila. Siswa akan belajar
tema tertentu yang sudah ditetapkan Pemerintah.
P5 merupakan Pembelajaran Kokulikuler yang terpisah
dengan pembelajaran Intrakulikuler. Alokasi Waktu P5 juga terpisah. 20-30% jam
belajar di setiap mata pelajaran.
Guru tidak wajib memaksakan proyek di setiap mata
pelajaran, melainkan Tujuan Utama Proyek adalah penguatan Dimensi Profil
Pelajar Pancasila. -#-
Jumat, 25 Agustus 2023
I took CS50
I joined the CS50x program in 2022.
The CS50 is a computer science from Harvard University collaborative with Kemendikbud intended for teachers in Indonesia.
This program is designed to encourage teachers to be more creative in preparing curriculum lessons that are tailored to the needs and interests of students.
The program will later get a certificate from Harvard University. The teachers are taught how to solve problems both with programming and not with programming. Emphasis on truth as well as design. The teachers will also gain knowledge of programming languages such as C, Python, SQL, JavaScript, CSS, and HTML.


