Kamis, 30 Desember 2010

REWARD UNTUK SISWA

            Seperti yang kita ketahui bahwa pengertian Reward pada umumnya adalah pemberian penghargaan kepada seseorang atas sesuatu yang telah dihasilkan. Di bidang pendidikan, reward dinilai begitu tinggi harganya. Misalnya saja reward atau penghargaan kepada guru yang berupa sertifikasi, guru berprestasi, dan lain-lain. Tapi bagaimanakah reward terhadap siswa ? Apakah reward hanya diberikan kepada siswa yang berprestasi saja, seperti juara kelas, atau kepada siswa yang telah mengharumkan nama sekolah dengan bakat seni atau lainnya ?    
Reward, betapa besar pengaruhnya terhadap siswa. Tidak hanya berupa piala, piagam, buku-buku ataupun hadiah-hadiah lain. Reward diberikan kepada siswa terutama untuk memicu prestasi agar lebih giat belajar.
            Lalu bagaimana dengan siswa yang biasa-biasa, dalam arti tidak pernah mengikuti lomba yang  mewakili nama sekolah, atau siswa yang nilainya pas-pasan dan tidak pernah mendapat juara kelas?
            Seorang yang mulia, yaitu guru, merupakan pembangkit semangat  bagi anak didik yang lemah. Dengan kata-kata yang mengalir sebagai penyejuk jiwa para siswa, dan meyakini bahwa setiap anak didiknya mempunyai kesempatan mendapat reward. Tidak perlu berupa materi, seperti yang pernah dilakukan oleh seorang pendidik, dimana pada saat praktek komputer, reward diberikan kepada siswa yang telah selesai mengerjakan tugas dan boleh menuliskan namanya di papan tulis, berurutan mulai dari yang selesai pertama kali sampai yang terakhir. Pada pembelajaran berikutnya, para siswa berlomba untuk mengerjakan tugas dengan baik dan cepat. Seperti juga yang pernah dilakukan seorang guru yang memuji sebuah gantungan kunci seorang siswanya yang ternyata  dibuat sendiri olehnya dari biji buah karet. Tanpa disangka-sangka keesokan harinya siswa tersebut membawa hasil karyanya yang lain dari rumah, yang dibuatnya juga dari biji buah karet.
            Masih banyak lagi contoh, yang menggambarkan betapa dasyatnya sebuah reward yang begitu sederhana namun besar dampaknya bagi para siswa. Reward membangkitkan pemikiran positif terhadap siswa. Tidak perlu berupa materi. Reward bisa diberikan dalam bentuk tepuk tangan, pujian, kata-kata motivasi dan perlakuan yang menjadikan siswa teladan bagi rekan-rekannya.
            Suatu ketika seorang laki-laki yang berpenampilan seorang pejabat, menghampiri seorang pemuda. ‘’Dik, salam untuk Ayahmu. Katakan bahwa aku adalah muridnya, yang pernah putus asa namun berkat semangat dari beliau, aku bisa seperti ini. Aku menyukai tepukan tangannya di bahuku….dan sekarang selalu aku lakukan terhadap anak buahku.’’
            Beberapa waktu lalu suasana haru, gembira menjadi satu, dimana para siswa sekolah menengah pertama dan sekolah atas telah mendapatkan hasil UN, begitu juga hasil PBUD. Juga beberapa saat lagi para siswa lain pun akan memasuki kenaikan kelas, untuk jenjang selanjutnya.
         Sudah selayaknya bagi orang tua, pendidik dan yang terlibat pada dunia pendidikan memberikan reward yang dapat  memotivasi siswa untuk menjadi lebih baik hingga dapat meningkatkan kualitas dan menjadikan manusia Indonesia seutuhnya. Reward sebaiknya tidak membuat anak didik kita menjadi terlena hingga melupakan tujuan Pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri.            Seperti yang kita ketahui bahwa pengertian Reward pada umumnya adalah pemberian penghargaan kepada seseorang atas sesuatu yang telah dihasilkan. Di bidang pendidikan, reward dinilai begitu tinggi harganya. Misalnya saja reward atau penghargaan kepada guru yang berupa sertifikasi, guru berprestasi, dan lain-lain. Tapi bagaimanakah reward terhadap siswa ? Apakah reward hanya diberikan kepada siswa yang berprestasi saja, seperti juara kelas, atau kepada siswa yang telah mengharumkan nama sekolah dengan bakat seni atau lainnya ?    
Reward, betapa besar pengaruhnya terhadap siswa. Tidak hanya berupa piala, piagam, buku-buku ataupun hadiah-hadiah lain. Reward diberikan kepada siswa terutama untuk memicu prestasi agar lebih giat belajar.
            Lalu bagaimana dengan siswa yang biasa-biasa, dalam arti tidak pernah mengikuti lomba yang  mewakili nama sekolah, atau siswa yang nilainya pas-pasan dan tidak pernah mendapat juara kelas?
            Seorang yang mulia, yaitu guru, merupakan pembangkit semangat  bagi anak didik yang lemah. Dengan kata-kata yang mengalir sebagai penyejuk jiwa para siswa, dan meyakini bahwa setiap anak didiknya mempunyai kesempatan mendapat reward. Tidak perlu berupa materi, seperti yang pernah dilakukan oleh seorang pendidik, dimana pada saat praktek komputer, reward diberikan kepada siswa yang telah selesai mengerjakan tugas dan boleh menuliskan namanya di papan tulis, berurutan mulai dari yang selesai pertama kali sampai yang terakhir. Pada pembelajaran berikutnya, para siswa berlomba untuk mengerjakan tugas dengan baik dan cepat. Seperti juga yang pernah dilakukan seorang guru yang memuji sebuah gantungan kunci seorang siswanya yang ternyata  dibuat sendiri olehnya dari biji buah karet. Tanpa disangka-sangka keesokan harinya siswa tersebut membawa hasil karyanya yang lain dari rumah, yang dibuatnya juga dari biji buah karet.
            Masih banyak lagi contoh, yang menggambarkan betapa dasyatnya sebuah reward yang begitu sederhana namun besar dampaknya bagi para siswa. Reward membangkitkan pemikiran positif terhadap siswa. Tidak perlu berupa materi. Reward bisa diberikan dalam bentuk tepuk tangan, pujian, kata-kata motivasi dan perlakuan yang menjadikan siswa teladan bagi rekan-rekannya.
            Suatu ketika seorang laki-laki yang berpenampilan seorang pejabat, menghampiri seorang pemuda. ‘’Dik, salam untuk Ayahmu. Katakan bahwa aku adalah muridnya, yang pernah putus asa namun berkat semangat dari beliau, aku bisa seperti ini. Aku menyukai tepukan tangannya di bahuku….dan sekarang selalu aku lakukan terhadap anak buahku.’’
            Beberapa waktu lalu suasana haru, gembira menjadi satu, dimana para siswa sekolah menengah pertama dan sekolah atas telah mendapatkan hasil UN, begitu juga hasil PBUD. Juga beberapa saat lagi para siswa lain pun akan memasuki kenaikan kelas, untuk jenjang selanjutnya.
         Sudah selayaknya bagi orang tua, pendidik dan yang terlibat pada dunia pendidikan memberikan reward yang dapat  memotivasi siswa untuk menjadi lebih baik hingga dapat meningkatkan kualitas dan menjadikan manusia Indonesia seutuhnya. Reward sebaiknya tidak membuat anak didik kita menjadi terlena hingga melupakan tujuan Pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri.

Oleh: Vera Vianty Mala
(Artikel ini dimuat di Warta Pendidikan-Riau, bulan Maret 2010)

0 komentar:

Poskan Komentar